Saturday, 12 March 2011

Home » edukasi » Istilah Tsunami

Istilah Tsunami

Dibaca :
Istilah
"tsunami," yang dalam bahasa Jepang berarti gelombang pelabuhan,
menjadi bagian dari bahasa dunia pasca tsunami raksasa Meiji pada
tanggal 15 Juni 1896 yang melanda Jepang dan menyebabkan 21.000 orang
kehilangan nyawa.


Untuk
memahami tsunami, sangatlah penting untuk dapat membedakannya dari
pergerakan pasang-surut dan gelombang biasa yang diakibatkan oleh
angin. Angin yang bertiup di atas permukaan laut menimbulkan arus yang
terbatas pada lapisan bagian atas laut dengan memunculkan
gelombang-gelombang yang relatif kecil. Misalnya; para penyelam dengan
tabung udara dapat dengan mudah menyelam ke bawah dan mencapai lapisan
air yang tenang. Gelombang laut mungkin dapat mencapai setinggi 30
meter atau lebih saat terjadi badai dahsyat, tapi hal ini tidak
menyebabkan pergerakan air di kedalaman. Selain itu, kecepatan
gelombang laut biasa yang diakibatkan angin tidaklah lebih dari 20
km/jam. Sebaliknya, gelombang tsunami dapat bergerak pada kecepatan
750-800 km/jam. Gelombang pasang surut bergerak di permukaan bumi dua
kali dalam rentang waktu satu hari dan, seperti halnya tsunami, dapat
menimbulkan arus yang mencapai kedalaman hingga dasar samudra. Namun,
berbeda dengan gelombang pasang surut, penyebab gelombang tsunami
bukanlah gaya tarik bumi dan bulan.




Tsunami
merupakan gelombang laut berperiode panjang yang terbentuk akibat
adanya energi yang merambat ke lautan akibat gempa bumi, letusan gunung
berapi dan runtuhnya lapisan-lapisan kerak bumi yang diakibatkan
bencana alam tersebut di samudra atau di dasar laut, peristiwa yang
melibatkan pergerakan kerak bumi seperti pergeseran lempeng di dasar
laut, atau dampak tumbukan meteor. Ketika lantai dasar samudra
berpindah tempat dengan kecepatan tinggi, seluruh beban air laut di
atasnya terkena dampaknya. Apa yang terjadi di lantai dasar samudra
dapat disaksikan pengaruhnya di permukaan air laut, dan keseluruhan
beban air laut tersebut, hingga kedalaman 5.000 - 6.000 meter, bergerak
bersama dalam bentuk gelombang. Satu rangkaian bukit dan lembah
gelombang itu dapat meliputi wilayah hingga seluas 10.000 kilometer
persegi.


TSUNAMI TIDAK BERDAMPAK DI LAUTAN LEPAS

Di
laut lepas tsunami bukanlah berupa tembok air sebagaimana yang
dibayangkan kebanyakan orang, tetapi umumnya merupakan gelombang
berketinggian kurang dari 1 meter dengan panjang gelombang sekitar
1.000 kilometer. Di sini dapat dipahami bahwa permukaan gelombang
memiliki kemiringan sangat kecil (ketinggian 1 cm yang terbentang
sejauh 1 km). Di wilayah samudra dalam dan lepas, gelombang seperti ini
terjadi tanpa dapat dirasakan, meskipun bergerak pada kecepatan sebesar
500 hingga 800 km/jam. Hal ini dikarenakan pengaruhnya tersamarkan oleh
gelombang permukaan laut biasa. Agar lebih memahami betapa tingginya
kecepatan gelombang tsunami, dapat kami katakan bahwa gelombang
tersebut mampu menyamai kecepatan pesawat jet Boeing 747. Tsunami yang
terjadi di laut lepas tidak akan dirasakan sekalipun oleh kapal laut.


TSUNAMI MEMINDAHKAN 100.000 TON AIR KE DARATAN

Penelitian
menunjukkan bahwa tsunami ternyata bukan terdiri dari gelombang
tunggal, melainkan terdiri atas rangkaian gelombang dengan satu pusat
di tengah, seperti sebuah batu yang dilemparkan ke dalam kolam renang.
Jarak antara dua gelombang yang berurutan dapat mencapai 500-650
kilometer. Ini berarti tsunami dapat melintasi samudra dalam hitungan
jam saja. Tsunami hanya melepaskan energinya ketika mendekati wilayah
pantai. Energi yang terbagi merata pada segulungan air raksasa menjadi
semakin memadat seiring dengan semakin mengerutnya gulungan air
tersebut, dan meningkatnya tinggi gelombang permukaan secara cepat
dapat diamati. Gelombang berketinggian kurang dari 60 cm di laut lepas
kehilangan kecepatannya saat mendekati perairan dangkal, dan jarak
antargelombangnya pun berkurang. Akan tetapi, gelombang yang saling
bertumpang tindih memunculkan tsunami dengan membentuk dinding air.
Gelombang raksasa ini, yang biasanya mencapai ketinggian 15 meter tapi
jarang melebihi 30 meter, melepaskan kekuatan dahsyat saat menerjang
pantai dengan kecepatan tinggi, sehingga menyebabkan kerusakan hebat
dan menelan banyak korban jiwa.


Tsunami
memindahkan lebih dari 100.000 ton air laut ke daratan untuk setiap
meter garis pantai, dengan daya rusak yang sulit dibayangkan.
(Gelombang tsunami terbesar yang pernah diketahui, yang melanda Jepang
pada bulan Juli 1993, naik hingga 30 meter di atas permukaan air laut.)
Tanda awal datangnya tsunami biasanya bukanlah berupa dinding air, akan
tetapi surutnya air laut secara mendadak.


TSUNAMI-TSUNAMI BESAR DALAM SEJARAH

Gelombang-gelombang laut raksasa terbesar akibat gempa bumi yang tercatat dalam sejarah adalah sebagai berikut

Gelombang
raksasa paling tua yang pernah diketahui akibat gempa di laut, yang
diberi nama "tsunami" oleh orang Jepang dan "hungtao" oleh orang Cina,
adalah yang terjadi di Laut Tengah sebelah timur pada tanggal
21 Juli 365 M dan menewaskan ribuan orang di kota Iskandariyah, Mesir.

Ibukota Portugal hancur akibat gempa dahsyat Lisbon pada tanggal 1 November 1775. Gelombang samudra Atlantik yang mencapai ketinggian 6 meter meluluhlantakkan pantai-pantai di Portugal, Spanyol dan Maroko.

27 Agustus 1883: Gunung berapi Krakatau di Indonesia meletus dan gelombang
tsunami yang menyapu pantai-pantai Jawa dan Sumatra menewaskan 36.000
orang. Letusan gunung berapi tersebut sungguh dahsyat sehingga selama
bermalam-malam langit bercahaya akibat debu lava berwarna merah.


15 Juni 1896: "Tsunami
Sanriku" menghantam Jepang. Tsunami raksasa berketinggian 23 meter
tersebut menyapu kerumunan orang yang berkumpul dalam perayaan agama
dan menelan 26.000 korban jiwa.


17 Desember 1896: Tsunami merusak bagian pematang Santa Barbara di California, Amerika Serikat, dan menyebabkan banjir di jalan raya utama.

31 Januari 1906: Gempa di samudra Pasifik menghancurkan sebagian kota Tumaco
di Kolombia, termasuk seluruh rumah di pantai yang terletak di antara
Rioverde di Ekuador dan Micay di Kolombia; 1.500 orang meninggal dunia.


1 April 1946:
Tsunami yang menghancurkan mercu suar Scotch Cap di kepulauan Aleut
beserta lima orang penjaganya, bergerak menuju Hilo di Hawaii dan
menewaskan 159 orang.


22 Mei 1960:
Tsunami berketinggian 11 meter menewaskan 1.000 orang di Cili dan 61
orang di Hawaii. Gelombang raksasa melintas hingga ke pantai samudra
Pasifik dan mengguncang Filipina dan pulau Okinawa di Jepang.


28 Maret 1964:
Tsunami "Good Friday" di Alaska menghapuskan tiga desa dari peta dengan
107 warga tewas, dan 15 orang meninggal dunia di Oregon dan California.


16 Agustus 1976: Tsunami di Pasifik menewaskan 5.000 orang di Teluk Moro, Filipina.

17 Juli 1998:
Gelombang laut akibat gempa yang terjadi di Papua New Guinea bagian
utara menewaskan 2.313 orang, menghancurkan 7 desa dan mengakibatkan
ribuan orang kehilangan tempat tinggal.


26 Desember 2004:
Gempa berkekuatan 8,9 pada skala Richter dan gelombang laut raksasa
yang melanda enam negara di Asia Tenggara menewaskan lebih dari 156.000
orang.


PENYEBAB TINGGINYA DAYA RUSAK TSUNAMI

Menurut
informasi yang diberikan oleh Dr. Walter C. Dudley, profesor
oseanografi dan salah satu pendiri Museum Tsunami Pasifik, tak menjadi
soal seberapa besar kekuatan gempa bumi, pergerakan lantai dasar
samudra merupakan syarat terjadinya tsunami. Dengan kata lain, semakin
besar perpindahan lempeng kerak bumi di lantai dasar samudra, semakin
besar jumlah air yang digerakkannya, dan hal ini akan menambah
kedahsyatan tsunami. Hal lain yang meningkatkan daya rusak tsunami
adalah struktur pantai yang diterjangnya: Selain faktor seperti bentuk
pantai yang berupa teluk atau semenanjung, landai atau curam, bagian
dari pantai yang selalu berada di dalam air mungkin saja memiliki
struktur yang dapat menambah kedahsyatan gelombang pembunuh.


Dalam
pernyataannya lain, yang memperjelas bahwa tindakan pencegahan yang
dilakukan tidak dapat dianggap sebagai jalan keluar sempurna, Dudley
mengatakan bahwa Amerika dan Jepang telah mendirikan perangkat pemantau
paling mutakhir di Samudra Pasifik, tapi seluruh perangkat ini memiliki
tingkat kesalahan lima puluh persen!


TANDA-TANDA ZAMAN AKHIR

Bencana
alam, yang tidak dapat dicegah menggunakan sarana teknologi atau
tindakan penanggulangan dini, menunjukkan betapa tak berdaya manusia
sesungguhnya.


Dari
abad ke-20, yang ditengarai sebagai "abad bencana alam", hingga kini,
telah terjadi sejumlah bencana alam besar seperti gempa bumi, letusan
gunung berapi, angin tornado, badai, angin topan, angin puyuh, dan
banjir, disamping tsunami, dan semua ini telah menimpakan kerusakan
parah dan merenggut nyawa jutaan manusia. Ketika seseorang memikirkan
fenomena luar biasa ini, dapat dipahami bahwa hal ini memiliki
kemiripan dengan fenomena alam yang dinyatakan sebagai pertanda masa
awal dari Zaman Akhir.


Menurut
apa yang dinyatakan dalam hadits, Zaman Akhir adalah suatu masa yang
akan datang menjelang terjadinya hari kiamat, dan ketika nilai-nilai Al
Qur'an tersebar luas ke masyarakat. Tahap pertama dari Zaman Akhir
adalah di kala manusia menjauhkan diri dari nilai-nilai ajaran agama,
ketika peperangan semakin meningkat, dan fenomena alam luar biasa
terjadi.


Demikianlah,
di dalam sejumlah hadits, kota-kota dan bangsa-bangsa yang dilenyapkan
dari lembaran sejarah dikabarkan sebagai tanda-tanda Zaman Akhir. Dalam
hadits-hadits yang mengupas masalah tersebut Nabi kita menyatakan:


"Saat (Hari Akhir) tidak akan terjadi hingga ... gempa bumi menjadi sering terjadi." (Bukhari)

"Peristiwa-peristiwa
besar akan terjadi di masanya [Imam Mahdi]." (Ibnu Hajar Haytahami,
Al-Qawl al-Mukhtasar fi'alamat al-Mahdi al-Muntazar, h. 27)

Ada dua peristiwa besar sebelum hari Kiamat ... dan kemudian tahun-tahun gempa bumi. (Diriwayatkan oleh Ummu Salamah (r.a.))

"Banyak peristiwa yang begitu menyedihkan akan terjadi di masanya [Imam Mahdi]." (Imam Rabbani, Letters of Rabbani, 2/258)

Di
tahap kedua Zaman Akhir, Allah akan membebaskan manusia dari kebobrokan
akhlak dan peperangan melalui Imam Mahdi. Di masa ini, yang dikenal
sebagai Zaman Keemasan, peperangan dan pertikaian akan berakhir, dunia
akan dipenuhi oleh kemakmuran, keberlimpahan dan keadilan, dan
nilai-nilai ajaran Islam akan melingkupi bumi dan diamalkan secara
luas. Masa seperti ini tidak pernah terjadi sebelumnya, dengan izin
Allah, tetapi akan berlangsung sebelum hari kiamat. Tahap ini sekarang
tengah menunggu saatnya yang ditentukan oleh Allah.


Segala
sesuatu di bawah kendali Allah. Orang-orang beriman yang memahami
kebenaran ini dan yang memiliki keimanan tulus kepada Allah, berserah
diri kepada Tuhan kita dengan pemahaman bahwa mereka tengah mengikuti
takdir mereka. Allah telah mengatur segala sesuatu dengan sempurna,
hingga rinciannya yang terkecil, sejak penciptaan bumi hingga Hari
Kiamat. Segala sesuatu dicatat dalam kitab "Lauh Mahfuz". Segala
sesuatu telah terjadi dalam satu waktu dalam pandangan Allah, Yang
tidak terikat oleh ruang ataupun waktu, dan ruang serta waktu dari
setiap peristiwa telah ditetapkan. Fakta ini dinyatakan dalam sebuah
ayat: "
Untuk tiap-tiap berita (yang dibawa oleh rasul-rasul) ada (waktu) terjadinya dan kelak kamu akan mengetahui." (Al Qur'an, surat Al An'aam, 6:67)

Artikel Terkait