Sunday, 6 March 2011

Home » kesehatan » Nyeri kepala gejala awal kanker otak

Nyeri kepala gejala awal kanker otak

Dibaca :
Nyeri kepala adalah nyeri yang
paling banyak dikeluhkan
penderita selain nyeri pinggang
saat berobat ke dokter, dan
nyeri kepala merupakan gejala
awal yang diderita sekitar 30 persen pederita tumor otak. “Gejala tumor otak tergantung letak dan kecepatan
pertumbuhannya. Namun
gejalanya muncul secara
tersamar yang biasanya dimulai
dengan gangguan mental ringan
yang hanya dapat dirasakan oleh orang yang berhubungan dekat
dengan penderita, seperti mudah
tersinggung, emosinya labil,
pelupa, lamban dan kurang
inisiatif, serta depresi,” kata dokter ahli saraf di Lampung, dr
Ruth Mariva SpS di
Bandarlampung, belum lama ini,
seperti dilansir Antara. Dalam seminar sehari tentang nyeri kepala yang
diselenggarakan RS Imanuel Way
Halim, di Bandarlampung itu, Ruth
mengatakan nyeri kepala
biasanya sulit digambarkan dan
bervariasi, mulai dari yang ringan dan episodik sampai berat dan
berdenyut atau meletup, yang
umumnya bertambah berat pada
malam, saat bangun pagi dan
saat perubahan posisi. Pada awalnya, nyeri kepala
tumor disebabkan pembengkakan
lokal sekitar tumor atau akibat
kerusakan pembuluh darah
sekitar tumor, dan akhirnya
disebabkan oleh tekanan tinggi di dalam kepala. Selain nyeri kepala, katanya,
pada tumor otak juga ditemukan
gejala mual muntah terutama
jika lokasi tumor di bagian
belakang, kejang- kejang, dan
mengalami gangguan penglihatan dan kelemahan saraf lainnya. “Penderita biasanya datang ke dokter dengan keluhan nyeri
kepala di daerah depan (dahi)
dan kepala belakang, yang
biasanya sudah berlangsung lama
dan progresif,” katanya. Berdasarkan penelitian IHS (International Headache Society)
tahun 1988 dan disepakati oleh
Perhimpunan Dokter Spesialis
Saraf Indonesia (PERDOSSI),
terdapat 13 kelompok nyeri
kepala, di antaranya adalah migren, nyeri kepala tipe tegang,
nyeri kepala akibat trauma
kepala, nyeri kepala akibat
infeksi, dan nyeri kepala akibat
gangguan metabolik. Jika dilihat dari waktu dan
lamanya serangan, nyeri kepala
dapat dibagi atas nyeri kepala
akut dan kronis. Menurut dr
Ruth, nyeri kepala akut dan
hebat memerlukan penanganan segera karena merupakan gejala
dari penyakit-penyakit
berbahaya, seperti penyakit
pada pembuluh darah otak
(stroke, thrombosis, hipertensi
maligna), infeksi otak ( meningitis, ensefalitis, abses)
dan keracunan karbon
monoksida. Disebutkannya, kebanyakan
nyeri kepala merupakan gejala
yang ringan, namun dapat juga
sebagai gejala suatu penyakit
yang serius atau berbahaya,
misalnya apabila nyeri kepala hebat secara tiba-tiba,
bertambah berat dan progresif,
disertai kejang dan pingsan,
terjadi saat aktifitas dan
gangguan penglihatan. Ruth menambahkan , nyeri
kepala harus ditangani secara
komprehensif, tidak hanya
mengobati gejala/ keluhannya
saja dengan memberikan obat
penghilang nyeri, tetapi juga dengan mendeteksi dan
menyingkirkan penyebab
terjadinya keluhan tersebut.
Penggunaan obat nyeri kepala
yang tidak tepat dan berlebihan
akan menimbulkan ketergantungan dan nyeri
kepala susulan yang
berkepanjangan. Dalam kesempatan itu, ia juga
menyebutkan bahwa 20 persen
pasien yang berobat ke Poliklinik
Saraf RS Imanuel Bandarlampung,
Januari-Juni 2007, adalah
penderita nyeri kepala. Sekitar 65 persen penderitanya adalah
perempuan dan lebih dari 50
persen menderita nyeri kepala
tegang. (yz)

Artikel Terkait